iklan Penerimaan Mahasiswa baru universitas wisnuwardhana

LSM Jaka Jatim: Jalin Komunikasi Politik Berbungkus Silaturahmi Kyai

  Dibaca : 12 kali
LSM Jaka Jatim:  Jalin Komunikasi Politik Berbungkus Silaturahmi Kyai
TAK TERBUKTI - Sidang putusan dua Bacaleg yang menuding KPU Sidoarjo melanggar administrasi dalam penentuan 2 Bacaleg Tidak Memenuhi Syarat (TMS) tidak terbukti dalam sidang putusan di Kantor Panwaslu Sidoarjo, Selasa (14/08/2018)

Memontum BondowosoKonstalasi politik di Bondowoso menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018 yang akan dihelat secara serempak mulai menghangat. Sosok kyai, masih menjadi kiblat politik untuk mendapatkan restu dan dukungan untuk sebuah perhelatan besar dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan sebuah legitimasi kekuasaan. Jika restu politik sudah ditangan, maka jalan menuju politik kekuasaan semakin terbuka lebar.

 

 

Di Bondowoso, hal semacam itu juga masih kental terjadi. Sejumlah tokoh yang dahulu jauh dari para kyai, kini mereka mulai membuka jalan silaturahmi. Mereka mulai melakukan pendekatan dengan sejumlah orang berpengaruh di Kabupaten tetangga untuk mendapatkan restu.

 

 

Namun kali ini sedikit berbeda, mereka lebih tertarik untuk menjadi orang kedua dalam percaturan kekuasaan. Hanya ingin mendampingi salah seorang yang kini digadang-gadang bakal menjadi bakal calon Bupati pada tahun 2018 yang namanya sudah begitu melekat di hati masyarakat.

 

 

“Ada salah satu pejabat tinggi di Bondowoso yang bolak-balik ke Situbondo untuk bersilaturahmi dengan sejumlah ulama terkemuka. Namun hingga kini belum ada respon maupun restu,” ujar Sekretaris LSM Jaka Jatim Kabupaten Bondowoso, Jamharir.

 

Dia mengaku memiliki banyak laporan karena ia selama ini cukup dekat dengan tokoh tokoh di kabupaten bergelar kota solawat itu.

 

“Gaya politik yang berbungkus silaturahmi. Aromanya sudah terasa, ada banyak cara, ada banyak media yang bisa digunakan untuk membungkus kepentingan kekuasaan dalam kemasan yang menarik,” terangnya.

 

 

Kata dia, selama hal itu masih dalam batas kewajaran, hal tersebut sah saja dilakukan. “Ya bagi kami sementara wajar-wajar saja. Tetapi kami hanya mengingatkan agar tidak menjadikan kyai sebagai alat untuk memuaskan nafsu politik. Tidak pula mengaku ngaku sebagai kader ormas Islam terbesar. Bagi saya itu sangat tidak sedap dipandang,” urainya.

 

Berdasarkan pantauan Memo X, sejumlah nama mulai mengemuka dan seakan berpacu untuk menjadi orang kedua. Sementara orang pertama masih bersikap santai dan memilih masih mengutamakan kepentingan masyarakat saat ini. (cw-1/yan)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!