Connect with us

Lumajang

Menang atau Kalah, Harus Dewasa Sikapi Hasil Pilkada

Diterbitkan

||

Menang atau Kalah, Harus Dewasa Sikapi Hasil Pilkada
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Memontum Lumajang – Pemilihan Bupati-Wakil Bupati di Kabupaten Lumajang telah usai, tiga pasang calon berlaga dalam kontestasi tersebut, ketiga Calon Bupati merupakan putra terbaik Kabupaten Lumajang dan pada 27 juni(kemarin- red) Masyarakat Lumajang telah melakukan pencoblosan yang berujung pada kemenangan paslon nomor urut 1 yaitu H.Thoriqul Haq MML – Drs Indah Amperawati M.Si. dengan perolehan suara pada Imput data terakhir dengan presentasi, Paslon 1 memperoleh 42% suara Paslon 2 memperoleh 35% suara Paslon 3 memperoleh 23% suara.

Menyikapi hasil yang telah dicapai pada pesta demokrasi yang berjalan dengan sangat baik dan kondusif di Lumajang, Wartawan Senior Lumajang, Abd. Fatah, menyampaikan bahwa memang secara psikologis selama berbulan-bulan Pilkada Lumajang telah memantik emosi publik dalam luapan dukungan kepada ketiga pasangan calon bupati dan wakil bupati Lumajang.

Ribuan, bahkan puluhan ribu orang bersosialisasi dan berinteraksi dengan berbagai bentuk sesuai karakter mereka dalam melibatkan diri pada Pilkada. Ada yang terang-terangan mendukung paslon tertentu, ada yang diam-diam dan ada juga yang cuek, tetapi ada yang sengaja menyerang paslon dan pendukung paslon lain secara terbuka. Itu yang ia lihat di medsos selama ini.

” Ya, itulah yang ingin saya sebut letupan emosi positiv dalam memberikan dukungan, walau kadang memunculkan rasa suka pada paslon A dan mengumbar kekurangan Paslon B dan seterusnya. Ini riil terjadi, dan semua tahu,” terangnya pada Media ini, Kamis(5/7/2018).

Menurut Cak Fatah, itu merupakan hal yang biasa walau kadang perang urat syaraf pun tak terhindarkan. Mereka beradu argumentasi, saling berteriak sesuai keyakinan mereka masing-masing. Namun kini semua proses itu sudah selesai. Satu yang belum selesai, yakni emosi puluhan ribu pendukung pihak yang gagal dan yang menang. Pendukung yang gagal, secara psikologis sudah barang tentu belum reda emosinya. Yang menang bisa saja makin emosional meluapkan kemenangannya. Dan sesungguhnya, inilah detik akhir yang berbahaya.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Terpopuler